CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Pages

Sim Pets

Rabu, 17 November 2010

PERIKLANAN

DASAR-DASAR PERIKLAN


A. Sejarah Periklanan di Dunia dan di Indonesia

Periklanan telah ada pada ribuan tahun lalu, ketika bangsa-bangsa di dunia mulai melakukan pertukaran barang, bahwa kira-kira 3000 tahun sebelum masehi, bangsa Mesopotamia dan Babilonia telah meletakkan dasar-dasar periklanan, di mana pada saat itu para pedagang menjajakan barang dagangannya kepada konsumen yang tinggal di pedalaman dengan menggunakan teknik door to door.

Pada zaman Yunani dan Romawi, teknik periklanan mengalami perkembangan pada masa ini, yakni pada masa ini dikenal perdagangan antarkota dengan menyebarkan informasi melalui media tertentu seperti terakota, perkamen, pahatan di dinding serta penggunaan papan nama.

Lalu periklanan memasuki masa keemasannya yang sangat penting, yaitu ketika kertas ditemukan pada tahun 1215 di Cina dan mesin cetak diciptakan oleh Johan Gutenberg pada tahun 1450. Maka sejak saat itu orang-orang beralih pada pamphlet ataupun selebaran-selebaran untuk memberikan informasi maupun untuk menjual sesuatu, dan periklanan semakin berkembang terlebih lagi setelah tumbuhnya era-industri.

Di Indonesia sendiri, pertumbuhan industri periklanan telah dimulai pada zaman peperangan saat pendudukan Belanda, pada masa Gubernur Jan Pieterz Coen. Saat itu sudah diterbitkan lembaran suatu informasi yang ditulis indah disebut juga silografi, dan arti iklan yang sesungguhnya baru terlihat pada surat kabar Bataviaashe Nouvells yang terbit pada bulan Agustus tahun 1744. Pada tahun 1970-an industri periklanan di Indonesia semakin berkembang dengan modern. Periklanan modern mulai terlihat berkembang di Indonesia karena pada saat itu banyak perusahaan-perusahaan yang sedang tumbuh, maka untuk mengantisipasi kebutuhan periklanan perusahaan-perusahaan yang sedang tumbuh tersebut, akibatnya dikeluarkan UU Penanaman Modal Asing (UU PMA) tahun 1967 dan UU Penanaman Modal Dalam Negeri (UU PMDN) tahun 1968, dimana pelopor periklanan modern di Indonesia adalah Intervesta, Matari, Fortune, Metro dan Perwanal.

B. Definisi Periklan

Secara teoritik iklan dilihat sebagai suatu bentuk penyampaian pesan dalam komunikasi yang bersifat non personal, mengikuti alur teori yang berlaku pada ilmu komunikasi umumnya dan khusunya komunikasi massa.

Periklanan dalam perspektif komunikasi, merupakan segala bentuk pesan tentang segala produk yang disampaikan lewat suatu media dan dibiayai oleh pemrakarsa yang dikenal serta ditujukan kepada sebagian atau seluruh masyarakat.

Menurut praktisi periklanan Indonesia, menyatakan dengan sepakat bahwa periklanan adalah keseluruhan proses yang meliputi penyiapan, perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan penyampaian iklan.

C. Teori-teori Periklanan

1. Teori Efek Minimal

Menurut Michael Scudson mengemukakan teorinya, terdapat korelasi negatif antara biaya pemasangan iklan dengan volume penjualan produksi. Artinya semakin besar biaya pemasangan iklan akan mempengaruhi makin kecilnya volume penjualan, dan sebaliknya semakin kecil biaya yang dikeluarkan untuk memasang iklan mengakibatkan semakin besar volume penjualan. Teori ini kemudian disebut dengan “Teori Efek Minimal”.

Contohnya seperti ; Penjualan rokok yang jelas mempunyai dampak negative dalam penggunaan jangka panjang, akan tetapi masih tetap mempunyai peminat atau konsumen tetapnya. Atau seperti penjualan narkoba yang merupakan produk berbahaya bagi manusia tapi tetap laris padahal produk-produk itu tidak pernah diiklankan melalui media massa kepada khlayak.

Menurut teori efek minimal, iklan memberikan efek yang sangat kecil atau efek minimal yang pada saat sesuatu produk benar-benar sangat diperlukan oleh para pembeli dalam kurun waktu tertentu

2. Teori Cutting Edge. ( Efek Samping)

Teori ini mengajarkan bahwasannya iklan secara tidak disadari dapat mengubah bentuk prilaku yang menyimpang dari suatu budaya umum, dan akan membentuk sub budaya kelompok tertentu. Dikatakan pada teori “efek samping”, hal ini terjadi karena efek yang semula direncanakan untuk khalayak atau untuk sasaran tertentu akan tetapi tidak tercapai, namun sebaliknya rencana tersebut mencapai efek pada khalayak yang tidak direncanakan sebelumnya. Sehingga mengakibatkan sasaran baru itu terpengaruh dan membentuk suatu sub budaya kelompok baru.

3. Teori A-T-R (Awareness, Trial, Reinforcement).

Pada teori A-T-R ini menjelaskan bahwasannya khalayak atau masayarakat dapat dipengaruhi oleh iklan. Hasilnya kita akan menemukan sekelompok orang yang relatif tetap memakai atau membeli produk-produk hasil iklan tersebut. Untuk mendapatkan kelompok orang yang menggunakan produk atau jasa secara tetap harus dilakukan penyampaian pesan yang disebut A-T-R (awareness, trial, reinforcement). Upaya pertama, menggugah kesadaran khalayak bahwa produk yang diinginkan itu ada di sekeliling mereka. Upaya kedua ialah Setelah menggugah kesadaran, setiap iklan harus kuat mempengaruhi khalayak tertutama pada segi konatifnya, sehingga khalayak langsung mencoba (trial). Dan upaya ketiga adalah proses peneguhan atau pengukuhan (reinforcement) suatu iklan yang ditampilkan harus mempunyai kekuatan peneguhan suatu sikap tertentu, yakni suatu sikap positif terhadap produk itu sendiri.

4. Teori Selective Influence

Teori ini mejelaskan bagaimana khalayak merespon pesan-pesan iklan dari media massa dapat diterangkan melalui teori selective influence yang terdiri dari empat prinsip :

a) Selective attention (memilih memperhatikan pesan tertentu)

Pertama, perbedaan individu dalam merespon pesan-pesan iklan terjadi hanya karena perbedaan dalam struktur kognitif yang mereka miliki. Cara pandang, berpikir, berpengetahuan, kepercayaan setiap orang terhadap sesuatu yang baru, termasuk pesan-pesan iklan tidaklah sama. Kedua, karena keanggotaan seseorang dalam masyarakat dalam berbagai kelompok sosial maupun kemasyarakatan maka ada dugaan memilih perhatian terhadap pesan tertentupun akan dipengaruhi oleh kelompoknya. Ketiga, bahwa orang lebih berminat jika suatu pesan iklan dapat membangun citra hubungannya dengan pihak lain. Pesan iklan membuat orang harus memperhatikannya karena pesan itu mengakibatkan orang itu aktif berhubungan dengan anggota keluarganya, maupun dengan kenalannya.

b) Selective Perception

Aspek lain yang perlu diperhatikan dalam pemilihan pesan iklan adalah pilihan terhadap suatu pesan yang didasarkan pada persepsi tertentu. Karena adanya perbedaan dalam faktor-faktor kognitif, seperti minat dan kepercayaan, pengetahuan, sikap, kebutuhan, serta nilai-nilai, maka individu secara selektif pula akan mempersepsi pesan iklan yang disampaikan. Jadi terdapat perbedaan peneriamaan pesan yang dipersepsi oleh penerima karena terdapat perbedaan kognisi tersebut

c) Selective Recall

Dalam selective recall ini bahwa seseorang cenderung memilih kembali hanya pesan-pesan yang diingat saja. Jadi prinsip ini meskipun parallel dengan seleksi pada perhatian, namun setiap orang memilih pesan iklan yang paling berkesan saja baginya.

d) Selective Action

Dalam teori Selective action dalam periklanan mungkin mengarahkan seseorang ataupun khalayak untuk memutuskan jenis produk apa yang akan dipilihnya setelah melalui proses pertimbangan, seperti keuntungan dan kerugian dari semua produk yang sama atau suatu iklan menawarkan hadiah tertentu. Contohnya seperti, seseorang tertarik menggunakan produk tertentu karena terdapat hadiah langsung yang membuatnya tertarik membeli produk tersebut, atau contoh seseorang yang tertarik menabung di suatu bank tertentu karena tergiur dengan hadiah yang disediakan bank tersebut.

5. Teori Lingkungan Informasi Pembeli

Teori ini memberi penjelasan bahwa setiap orang dapat memutuskan untuk membeli sesuatu ataupun memakai suatu produk tidak hanya berdasarkan iklan yang individu lihat saja. Dalam kenyataanya terdapat berbagai sumber informasi non-iklan yang mungkin saja berdampak lebih luas dan positif dalam menentukan pengambila keputusan terhadap produk, seperti diantaranya :

a) Pengalaman pribadi pembeli

b) Komunikasi antar pribadi dalam jaringan keluarga

c) Berita media massa yang lain

d) Kredibilitas konsumen

e) Perusahaan saingannya.

f) Kredibilitas media yang digunakan dalam masyarakat

g) Lingkungan informasi yang beragan tentang produk

h) Kegiatan personal selling, promotion, salesman dan sejenisnya

i) Informasi persaingan harga yang diperoleh dari media non masa.

6. Teori S-O-R

Bahwa suatu tingkah laku sosial dapat dimengerti melalui suatu analisa dari stimuli yang diberikan dan dapat mempengaruhi reaksi yang spesifik dan didukung oleh hukuman maupun penghargaan sesuai dengan reaksi yang terjadi. Teori S-O-R menitik beratkan pada penyebab sikap yang dapat mengubahnya dan tergantung pada kualitas rangsangan yang berkomunikasi dengan organisme. Menurut Hovland, proses dari perubahan sikap adalah serupa dengan suatu proses belajar, dimana terdapat tiga variabel penting yang dapat menunjang proses belajar tersebut, yakni :

a) Perhatian

b) Pengertian

c) Penerimaan.

Dari pemahaman gambar ini dapat dijelaskan iklan merupakan stimulus yang akan ditangkap oleh masyarakat. komunikasi akan berlangsung jika ada perhatian dari komunikan. proses selanjutnya komunika mengerti. Kemampuan dari komunikan ini yang dapat menentukan proses selanjutnya, setelah komunikan mengolah dan menerimanya maka terjadilah suatu kesediaan untuk mengubah sikap. Dalam hal ini perubahan sikap terjadi ketika komunikan memiliki keinginan untuk membeli atau memakai produk yang diiklankan. John B. Watson berpendapat bila perusahaan ingin memperoleh tanggapan dari konsumen tentang produknya, maka perusahaan harus mengadakan periklanan secara terus menerus, hal ini akan memberikan keuntungan, diantaranya :

a) Mencegah kemungkinan orang menjadi lupa yaitu kecenderunganmelemahnya tanggapan yang ditimbulkan kombinasi petunjuk karena tidakdipergunakan.

b) Memperkuat tanggapan karena setelah membeli konsumen menjadi lebih peka terhadap iklan-iklan produk yang bersangkutan

Dalam kitan dengan teori S-O-R sering terjadi pergeseran atau suatu penyimpangan yang dikarenakan seringnya khalayak mendapatkan pesan atau iklan yang sangat beragam. Sehingga khalayak mengalami kehilangan daya selektifitasnya (sistem seleksi yang semestinya melalui penyaringan yang ketat, namun terkalahkan oleh karena mudah dipengaruhi). Hal ini khususnya terjadi pada suatu kelompok remaja, sehingga implementasi teori S-O-R sering menjadi teori S-R, artinya respon yang ditimbulkan sebagai konsekuensi adanya stimulus iklan yang diterima remaja tanpa melalui filter organisme yang ketat. Pendekatan Psikologi Periklanan,dalam kegiatan periklanan dimana seluruh kegiatannya dilakukan oleh manusia, maka di dalam hal ini tidak dapat dikesampingkan masalah kejiwaan ataupun psikologi sebagai dasar untuk melakukan kegiatan-kegiatan pada bidang-bidang periklanan secara keseluruhannya.

Apabila dilihat kaitannya dengan ilmu psikologi dalam periklanan maka tidak terlepas dari pemahaman dan penerapan ilmu jiwa, baik ilmu jiwa perorangan maupun ilmu jiwa sosial. Ilmu jiwa perorangan mempelajari serta menyelidiki jiwa seseorang yang diselidiki adalah analisis dari jiwa manusia itu sendiri serta hubungannya dengan pengaruh pembawaan serta pengaruh lingkungan sekitarnya. Sedangkan Ilmu jiwa sosial ialah mempelajari tingkah laku manusia baik secara perorangan maupun secara berkelompok, yang dimaksud dengan tingkah laku sosial adalah tingkah laku manusia yang terjadi sehubungan dengan adanya orang lain baik itu secara konkrit maupun secara psikologis dalam bentuk frame of Reference.


D. Fungsi Iklan

1. Sebagai Sumber Informasi

Dapat membantu masyarakat untuk memilih suatu alternative produk yang lebih baik atau lebih sesuai dengan keinginan atau kebutuhannya.

2. Sebagai Kegiatan Ekonomi

Mendorong pertumbuhan perekonomian, kerena produsen terus didorong tetap memproduksi dan memperdagangkan produk, untuk melengkapi kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.

3. Sebagai Pembagi Beban Biaya

Membantu terciptanya skala ekonomi yang besar bagi setiap produk, sehingga menurunkan biaya produksi dan distribusi per-unit atas produk tersebut, dan pada gilirannya memurahkan harga jualnya kepada masyarakat.

4. Sebagai Sumber Dana Media

Periklanan merupakan salah satu sumber dana media yang menunjang media untuk tetap eksis. Munculnya media-media membuat persaingan iklan semakin ketat.

5. Sebagai Identitas Produsen

Melalui kegiatan periklanan, masyarakat akan mengetahui produsen. Ada perusahaan yang dalam iklannya menonjolkan perusahaannya.

6. Sebagai Sarana Kontrol

Melaui kegiatan periklanan, masyarakat dapat membedakan produk-produk legal dengan illegal.

Fungsi iklan dalam pemasaran adalah memperkuat dorongan kebutuhan dan keinginan konsumen terhadap suatu produk untuk mencapai pemenuhan kepuasannya. Agar iklan berhasil merangsang tindakan pembeli, menurut Djayakusumah (dalam forumkami.com) setidaknya harus memenuhi kriteria AIDCDA yaitu:

1. Attention : mengandung daya tarik

2. Interest : mengandung perhatian dan minat

3. Desire : memunculkan keinginan untuk mencoba atau memiliki

4. Conviction : menimbulkan keyakinan terhadap produk

5. Decision : menghasilkan kepuasan terhadap produk

6. Action : mengarah tindakan untuk membeli

Sedangkan fungsi Periklanan menurut Lee dan Johnson (dalam Adiprakosa, 2008) dapat dijabarkan sebagai berikut:

  1. Periklanan adalah menjalankan sebuah fungsi informasi, yaitu mengomunikasikan informasi produk, ciri-ciri dan lokasi penjualannya. Ia memberitahu konsumen tentang produk-produk baru.
  2. Periklanan menjalankan sebuah fungsi persuasif, dimana fungsi ini mencoba membujuk para konsumen untuk membeli merek-merek tertentuatau mengubah sikap mereka terhadap produk atau perusahaan tertentu.
  3. Periklanan menjalankan sebuah fungsi pengingat, dimana terus menerus mengingatkan para konsumen tentang sebuah produk sehingga mereka akan tetap membeli produk yang diiklankan tanpa memedulikan merek pesaingnya.


E. Tujuan Iklan

Pada dasarnya, tujuan akhir dari suatu periklanan adalah untuk merangsang atau mendorong terjadinya penjualan. Secara umum tujuan periklanan adalah :

  1. Menciptakan pengenalan merek/produk/perusahan. Melalui periklanan masyarakat akan mengetahui keberadaan merk, produk maupun perusahaan di pasar.
  2. Memposisikan. Bertujuan untuk memposisikan produk dengan membedakan diri dengan pesaing.
  3. Mendorong prospek untuk mencoba. Dengan menyampaikan pesan-pesan yang persuasive, masyarakat didorong untuk mencoba menggunakan produk atau merk yang ditawarkan.
  4. Mendukung terjadinya penjualan. Dengan adanya iklan diharapkan konsumen akan bertindak membeli produk tersebut.
  5. Membina loyalitas. Dengan adanya iklan akan semakin memantapkan keberadaan pelanggan yang loyal.
  6. Mengumumkan cara baru pemanfaatan. Inovasi atau cara baru pemanfaatan dapat diketahui masyarakat melalui iklan.
  7. Meningkatkan citra. Dengan adanya iklan akan meningkatkan citra produk, merk, maupun perusahaan itu sendiri.

F. Pendekatan Kreatifitas merupakan strategi iklan yang baik

Prinsip kreatifitas dalam sebuah iklan adalah bahwa kreatifitas tidak menciptakan sesuatu dari yang tidak ada, melainkan kreatifitas; membuka, memilih, kemudian mengatur kembali, menggabungkan, menghasilkan fakta, keahlian dan ide yang sudah ada sebelumya. Dalam arti lain bahwasannya kreatifitas adalah penggabungan ide-ide yang telah ada sebelumnya untuk menciptakan sesuatu yang baru (Roman, Maas, dan Nisenholtz, 2002).

Menurut Roman, Maas, dan Nisenholtz (2002), membuat sebuah iklan yang kreatif tidaklah mudah, karena sebuah karya iklan merupakan hasil dari kolaborasi penulis naskah dengan pengareah seni atau antara agen dengan klien.

Oleh karena itu, ketika pada saat proses pencarian ide secara bebas (Brainstorming) dilakukan pada sebuah kelompok, semua pendapat atau ide-ide ditampung untuk kemudian di nilai ulang. Biasanya didalam proses brainstorming tim kreatif menggunakan strategi tertentu dalam memberi ide-ide kreatif. Strategi tersebut dengan cara melantur, lanturan disengaja utuk tujuan tertentu dengan tetap menjaga relevansinya, maksudnya adalah melantur sejauh-jauhnya namun merelevansikan sedekat-dekatnya (Hakim, 2005).

* Menurut Hakim (2005), berikut beberapa pendekatan yang digunakan dalam membuat lanturan-lanturan untuk menciptakan iklan yang menarik, yaitu:

1. Plesetan. Orang tertawa ketika mendengar plesetan, karena relevansinya. Relevansi dalam hal ini adalah mengacu pada kata asli yang kemudian diplesetkan.

2. Visual Produk. Penggantian akan sebuah visual dengan visual lannya dengan cara mengganti secara keseluruhan, ukurannya ataupun salah satu elemennya.

3. Headline atau Tipografi. Merupakan suatu visual yang berbentuk kata-kata atau susunan kata dari headline atau tipografi yang memuat makna tertentu.

4. Logo. Menjadikan elemen logo sebagai sumber ide dalam menyampaikan pesan periklanan.

5. Makna Ganda. Sebuah symbol yang dihadirkan untuk mewakili dua buah benda atau dua hal sekaligus.

6. Tokoh sebagai Endoser. Penggunaan orang terutama yang menjadi public figure dalam penyampaian pesan.

7. Sex. Mengarahkan fikiran konsumen pada hal-hal yang sensual.

8. Fungsi Produk. Memindahkan fungsi dari suatu produk pada hal yang bersifat positif untuk menambah dramatisasi dari benefit produk tersebut.

* Bentuk lain dari penyampaian iklan dapat juga dilakukan dengan cara:

1. Product Shoot. Pengambilan gambar berkonsentrasi pada produk

2. Pendekatan Budaya. Penggunaan bentuk budaya lokal untuk menyampaikan pesan penjualan.

3. Humor. Fokus audience justru akan tertuju pada lucunya suatu iklan bukan pada inti pesannya. Akan tetapi berhati-hatilah dalam menggunakan cara humor sebagai cara pendekatannya, menurut Sutherland dan Slyvester (2005), iklan lucu akan mengurangi unsur pesan yang penting dan iklan yang lucu akan efektif jika persepsi orang terhadap pesan sudah dianggap positif.

4. Emosional Selling Proposition. Para peneliti iklan telah mengenal secara baik bahwa iklan yang berpengaruh secara positif pada perasaan dan emosi target, dapat sangat sukses untuk produk dan situasi tertentu. Oleh karena itu trend iklan kedepannya akan diarahkan pada emosi (Suyanto, 2004).

* Menurut Durianto, dkk (2003), ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat perumusan kreatifitas iklan :

1. Directed Creativity. Kreatifitas yang dibuat harus sesuai dengan apa yang akan disampaikan atau mengkomunikasikan pesan yang telah ditentukan sebelumnya, mengkomunikasikan pesan ini adalah inti pesan yang akan disampaikan kepada sasaran yang tertuang dalam strategi kreatif dalam bentuk Creative Brief yang dibuat oleh tim kreatif.

2. Brand Name Exposure. Terdiri dari individual brand name dan company brand name. Brand name exposure dinggap penting karena bertujuan untuk mendapatkan brand awareness.

3. Selectivity. Berkaitan dengan pesan yang disampaikan kepada sasaran dan endoser sebagai pembawa pesan dari iklan tersebut.

4. Positive Uniqueness. Iklan efektif harus dapat menciptakan asosiasi yang positif. Pertama-tama iklan harus efektif kemudian kreatif. Iklan akan menjadi sia-sia apabila hanya sekedar kreatif tetapi tidak efektif dan menimbulkan asosiasi yang salah dalam persepsi sasaran.

Menurut suyanto (2004), pesan yang mudah diingat dengan baik adalah yang berkaitan dengan asosiasi; indera (visual), konteks emosional (cinta, kebahagiaan, keadilan), kualitas yang menonjol dan berbeda, asosiasi yang intens, dan hal-hal yang memiliki keutamaan pribadi.

* Menurut Hakim (2005), pesan periklanan yang disampaikan dengan gaya yang berbeda harus memiliki nilai-nilai :

1. Simple. Sebuah iklan haruslah simple, karena diartikan sebagai sesuatu yang dapat dimengerti dengan satu kali melihat, tidak terlalu banyak elemen namun komunikatif.

2. Unexpected. Iklan yang unik dan tidak terprediksi akan memiliki kemampuan untuk menempatkan diri dalam otak manusia sehingga mudah untuk diingat.

3. Persuasive. Iklan dengan daya bujukan yang kuat, akan menggerakan konsumen dengan brand dan tertarik untuk mencobanya.

4. Relevant. Ide harus tetap relevan baik dari sisi rasionalitas maupun dari produknya, serta harus ada korelasi dengan positioning dan personality brand.

5. Entertaining. Bukan berarti lucu, dalam skala yang lebih luas berarti harus mampu mempermainkan emosi konsumen. Emosi inilah yang akan mengangkat simpati konsumen terhadap produk.

6. Acceptable. Dimana yang menilai sebuah iklan adalah konsumen, oleh karena itu penerimaan mereka terhadap iklan harus diperhatikan.

G. Menemukan Suatu Ide Kreatif

1. Convention. Menganalisis kebiasaan ide iklan suatu produk di kategori yang sama, pada tahap ini kita berfikir inside the box, karena sebelum kita berfikir outside the box kita harus tahu dahulu seperti apa inside-nya baru kemudian mencari outside-nya.

2. Disturbtion. Ditahap inilah kita baru berfikir outside the box, mencari sesuatu yang diluar kebiasaan, dan mencari ide sebanyak-banyaknya. Pada tahapan yang kedua ini, tebagi menjadi dua bagian, yaitu :

a) Inkubasi. Mendiskusikan dengan teman sekerja ataupun melakukan brainstorming.

b) Iluminasi. Tahapan “AHA” atau pemunculan insight yang timbul dari sebuah ide dan memberikan semangat dalam melaksanakan ide tersebut.

3. Kembali ke Visi Iklan (Brief yang dibuat). Dari daftar ide yang telah ditemuklan mana yang paling relevan dengan visi iklan dan sesuai brief.


REFERENSI

Durianto, Darmadi, dkk. (2003). Invasi Pasar dengan Iklan yang Efektif. PT.Gramedia Pustaka : Jakarta

Hakim, Budiman. (2005). Lanturan tapi Relevan, Dasar-dasar Kreatif Periklanan. Galang Press : Yogyakarta

Roman, Kenerth, dkk. (2005). How To Advertise, Membangun Merek dan Bisnis dalam Dunia Pemasaran Baru. PT.Elex Media Komputindo : Jakarta

Sutherland, Max, dkk. (2005). Advertising and The Mind Of the Consumer, Bagaimana Mendapatkan Untung Berlipat Lewat Iklan yang tepat. Penerjemah : Setia Bangun. PT.Gramedia Pustaka : Jakarta

Suyanto, M. (2004). Aplikasi Desain Grafis untuk Periklanan. Andi Offset : Yogyakarta

http://basic-advertising.blogspot.com/2009/07/teori-periklanan.html

http://adiprakosa.blogspot.com/2008/07/ruang-lingkup-ilmu-komunikasi.html

2 ComMent:

Nielsen Djuwandono Hermawan mengatakan...

permisi saya Nielsen, apakah anda punya buku Durianto, Darmadi, dkk. (2003). Invasi Pasar dengan Iklan yang Efektif. PT.Gramedia Pustaka : Jakarta. yang anda kutib di atas? saya membutuhkan buku tersebut.

nielsenhermawan@hotmail.com

Anonim mengatakan...

alangkah indahnya bila tulisan dan background tidak sama sama gelap, bila background gelap gunakan tulisan berwarna cerah seperti kuning atau putih, begitupun sebaliknya... ( saya sedikit kesulitan untuk membaca artikel di atas karena warna tulisan dan backgroundnya )

- Hiii guys,, TerIma KaSih iaa ataS KunjUngaN'y, sEmoga Isi daLam bLog iNi daPat mEmberIkan mAnfaaT sErta PengEtaHuan LebiH baGi Qt, dan Segala iSi daLam Blog ini bErdasarKan sUmber dAn RefereNsi yang di Dapat -