CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Pages

Sim Pets

Rabu, 07 Oktober 2009

KEKUASAAN

Kekuasaan kaitannya dengan mempengaruhi perilaku

Dalam proses saling mempengaruhi individu maupun kelompok, bukan hanya dengan adanya hubungan, komunikasi dan emosionalitas belaka, tetapi juga berkaitan dengan unsur kekuasaan.
Salah satu unsur dari kekuasaan yang pertama adalah wewenang, dimana bentuk kekuasaannya resmi karena menekankan pada suatu fungsi status yang ada, biasanya dipertegas dengan surat pengangkatan, surat tugas, dan lain sebagainya. Teori atau dalil yang sesuai dengan wewenang menurut saya ialah Obedience dimana ketika seseorang menampilkan perilaku tertentu karena adanya tuntutan meskipun sebenarnya ia tidak suka atau tidak menghendaki perilaku tersebut. Ini terjadi karena; adanya jarak emosional (hubungan interpersonal yang tidak dekat), sahnya kekuasaan, kewibawaan institusi, reinterpretasi kognitif, dan juga karena adanya pelatihan. Contoh konkritnya peranan wewenang dapat terlihat pada bidang kemiliteran.
Selain itu menurut saya, aplikasi wewenang yang juga terlihat di kehidupan sehari-hari biasanya terjadi pada rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh pejabat-pejabat pimpinan dimana bertugas untuk mengerahkan, menggerakkan dan mengarahkan segala sumber (dana dan daya) untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Misalnya, dalam suatu perusahaan seorang pemimpin mempunyai hak atau wewenang penuh dalam menjalani perusahaan tersebut dengan segala peraturan yang diberlakukan olehnya yang akan dilaksanakan para pegawainya guna mencapai tujuan (visi dan misi) perusahaan tersebut. Manfaat wewenang yang dapat terjadi biasanya membuat lebih disiplin dan mudah diatur (ketika para pegawai diharuskan masuk kerja tepat pukul 08.00 WIB, maka mereka akan secara otomatis datang sebelum jam yang ditentukan). Contoh nyatanya, ketika saya mengalami sebuah kecelakaan dan harus di operasi saat itu juga, saya dan keluarga saya mengikutinya yang sesuai dengan dokter katakan, walaupun sebenarnya ketika sebelum melakukan operasi tersebut orang tua saya inginnya memindahkan saya ke RS yang lain, tetapi karena dokter yang telah menangani saya berkata harus sesegera mungkin dilakukan operasi dan akan memakan waktu yang lebih lama lagi jikalau saya harus dipindahkan dahulu ke RS lain, maka orang tua saya menyetujuinya, dengan demikian dokter tersebut mempunyai wewenang penuh atas kesembuhan saya.

Unsur yang kedua adalah Paksaan, biasanya terdapat tekanan atau ancaman. Menurut saya teori atau dalil yang tepat mengenai paksaan yang mempengaruhi perilaku, ialah konformitas. Seperti menurut Kiesler dan Kiesler (1969) konformitas adalah perubahan perilaku atau kepercayaan menuju (norma) kelompok sebagai akibat tekanan kelompok yang real atau yang dibayangkan. Dan seperti pada penelitian yang dilakukan oleh Solomon E. Asch (1959), dimana ia mengumpulkan tujuh sampai sembilan mahasiswa di ruangan kelas untuk ikut serta dalam apa yang disebutnya sebagai studi diskriminasi visual. Mereka harus memilih garis yang panjangnya sama dengan garis standart,dalam percobaan tersebut terdapat 12 pasang garis, dan jawaban yang benar terlihat jelas, dan didalam percobaan tersebut juga terdapat konfederat dan naïve subject.
Pada dua percobaan yang pertama semua anggota kelompok memberikan penelitian yang sama. Pada percobaan ketiga, semua anggota kelompok yang merupakan konfederat (sekutu peneliti yang dilatih untuk perilaku tertentu) memberikan penilaian yang (sengaja) salah. Kecuali satu orang di antara mereka (yang menjadi subjek eksperimen). Keadaan ini terjadi berulang kali, dan secara berulang kali pula satu orang tidak setuju dengan mereka. Tetapipada beberapa percobaan, yang satu orang itu setuju juga dengan penilaian kelompok. Ketika subjek yang berbeda itu (naïve subject) berbeda dengan kelompok, ia kelihatan gelisah, ragu pada penilaiannya sendiri dan bingung.
Menurut Deutsch dan Gerard (1995), menyebutkan gejala pada penelitian Asch itu sebagai “pengaruh social normative”. Dimana kita sepakat karena kita merasa tidak enak berbeda dengan mereka (kelompok), dan kita tidak ingin melanggar ekspektasi mereka.
Penerapan unsur kekuasaan yang berupa ancaman biasanya premanisme, dimana merasa memiliki biasanya para preman melakukan suatu paksaan terhadap orang lain untuk mendapatkan yang ia inginkan.

Unsur yang ketiga adalah Manipulatif, biasanya dalam melakukan upaya dalam mempengaruhi perilaku individu dilakukan dengan cara menyamarkan, mengimitasikan ataupun membohongi individu tersebut agar tujuannya tercapai (sering disebut menggunakan cara yang “licik/penipuan”). Contoh penerapannya didalam kehidupan sehari-hari, seperti ketika ibu saya berbelanja di pasar tradisional membeli buah jeruk, sesampainya dirumah ibu saya menimbang kembali buah tersebut, karena curiga dan merasa dibohongi sebab timbangannya tidak sesuai dengan apa yang ibu saya pesan. Maka hal ini menggambarkan adanya suatu manipulasi data (berat timbangan tersebut) yang tidak sesuai faktanya. Manipulasi biasanya tidak disertai adanya suatu paksaan ataupun tekanan (ketika ibu saya membeli buah tidak ada paksaan dari penjual untuk membeli) didalam melakukan sesuatu.

Unsur yang keempat adalah Kerjasama. Dalam mempengaruhi perilaku individu dengan melakukan suatu kerjasama biasanya lebih mudah, karena didalamnya terdapat komunikasi (seperti saling mengajukan pendapat/berdiskusi) untuk mencapai suatu kesepakatan. Penerapanya dalam kehidupan sehari-hari misalnya, ketika terjadi suatu rapat RT tentang acara HUT kemerdekaan RI, semua panitia penyelenggara berdiskusi untuk mencapai kesepakatan, didalam prosesnya telah terjadi silang pendapat antar panitia yang akhirnya diputuskan ketua dari hasil rapat tersebut. Banyak manfaat yang dapat dirasakan dari kerjasama ; biasanya membuat suatu permasalahan terlihat lebih mudah, pengambilan tanggungjawab sebagai suatu alternatif, saling berkomunikasi, tujuan yang dicapai jelas, dapat menetapkan suatu alternatif dalam pemecahan masalah.

Unsur yang terakhir adalah Upah dan Prestasi Kerja. Didalam unsur ini kekuasaan yang berguna untuk mempengaruhi perilaku tidak hanya wewenang saja sebagai faktor utama, tetapi ada unsur lain yang juga sebagai faktor penting didalamnya yakni dengan adanya upah. Contoh konkritnya biasanya terlihat pada perusahaan, prestasi kerja karyawan di dalam perusahaan sangat menentukan kemajuan perusahaan. Dalam hal ini menjadi kewajiban seorang manajer atau pimpinan untuk dapat menciptakan suasana yang dapat mendukung terciptanya prestasi kerja yang tinggi dari karyawan. Untuk mendapatkan pretasi kerja yang tinggi, manajer perlu memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi pretasi kerja karyawan.
Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi prestasi kerja karyawan adalah besarnya upah yang diterima karyawan. Secara teoritik dapat dikatakan bahwa ada hubungan positif antara faktor upah dengan prestasi kerja karyawan. Dengan kata lain adanya upah yang memuaskan, dapat meningkatkan prestasi kerja karyawan. Maksud dari kekuasaan mempengaruhi perilaku ialah dimana seseorang bekarja semata-mata bukan hanya untuk menjalankan tugasnya sebagai pegawai, tetapi karena adanya upah yang sebanding dengan prestasi kerjanya (prestasi kerja baik/meningkat, maka upah yang diterimapun meningkat).

3 ComMent:

princess nitha mengatakan...

mba2,,,mbo dirapiin tohh ketikannya,,,heheh,,sayang lho isinya dah berbobot,,tp kurang rapi,,,,

princess nitha mengatakan...

jangan ngambek ya nda'qu..heheh
kan kritik membangun,,, hehe

ninda mengatakan...

yoi deh buu, thanks yawh ^^

- Hiii guys,, TerIma KaSih iaa ataS KunjUngaN'y, sEmoga Isi daLam bLog iNi daPat mEmberIkan mAnfaaT sErta PengEtaHuan LebiH baGi Qt, dan Segala iSi daLam Blog ini bErdasarKan sUmber dAn RefereNsi yang di Dapat -